Ceps ibo Blog

Selamat Datang Bro…

Kekhawatiran bakal terjadinya gempa Mentawai yang dashyat telah dimuat oleh situs Kompas.com pada 1 Oktober tahun 2009

Sebelumnya, para pakar geologi telah mengingatkan akan bahaya megathrust hingga sekuat 8,9 pada skala Richter dari segmen gempa yang sama. Bila energi itu dilepaskan sekaligus, tsunami bakal mengancam Padang dan sekitarnya. Para pakar geologi tersebut justru lega atas gempa sekuat 7,2 yang terjadi “Ini yang kami harapkan, energi dilepas sedikit-sedikit,” kata mereka.

Pelepasan energi sedikit demi sedikit itu juga telah terjadi pada Agustus tahun 2009 lalu, dengan kekuatan 6,9 pada skala Richter di segmen tersebut. Saat itu peneliti gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan besaran itu hanya seperseribu energi yang dikhawatirkan selama ini.

Kalau energi yang di bawah Siberut terlepas sekaligus–yang bisa terjadi kapan sajadaratan pesisir barat Sumatera, terutama Padang dan Bengkulu, bisa ambles hingga 1,5 meter. Ini sebagai konsekuensi dari naiknya pulau-pulau di Mentawai, yang bisa mencapai 3 meter, dan sangat berbahaya apabila terjadi tsunami. (Sumber: Koran Tempo).

Kekhawatiran bakal terjadinya gempa Mentawai yang dashyat telah dimuat oleh situs Kompas.com pada 1 Oktober tahun 2009 seperti yang termuat dalam cuplikan artikelnya di bawah ini :


“Dari pengamatan sejak tahun 2004, berturut-turut terjadi gempa kuat berskala di atas 7,0 SR, mulai dari Nias hingga Bengkulu (tahun 2007), terus berlanjut sampai ke gempa Tasikmalaya (2 September 2009). Ketika itu, saat tahun 2007 terjadi gempa Bengkulu, kami melihat ada yang aneh, mengapa kok meloncat? Mengapa Padang dilewati?’” Fenomena itu memiliki arti bahwa segmen di daerah Padang belum ”pecah”, melepaskan energi. Setelah gempa Padang pada tanggal 30 September 2009, yang berkekuatan 7,6 SR, panjang zona yang pecah baru sekitar 100 kilometer., pertanyaan yang masih mengganjal benak kalangan ahli gempa adalah bagaimana dengan zona subduksi di kawasan Mentawai yang sampai sekarang belum juga pecah ?” tutur guru besar dan ahli gempa dari ITB, Sri Widiyantoro.

Menurut Yusuf Surachman Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyebut, energi di Padang memang sudah matang. Jalur zona subduksi di sebelah barat Sumatera yang merupakan daerah pusat gempa menurut Yusuf Surachman panjangnya sekitar 1.200 kilometer membentang dari Andaman, Aceh, Sumatera Utara, Padang, terus ke selatan, Bengkulu, Lampung, sampai ke Selat Sunda dan selatan Jawa Barat.

Menurut Dr Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI, kawasan Mentawai yang belum juga melepaskan energi, panjang jalurnya 300-400 kilometer, mulai dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, sampai ke Pulau Bagai Utara dan Bagai Selatan. ”Pusatnya terutama di bawah wilayah Siberut,” kata Danny.

Dia mengakui, gempa Padang berpotensi memicu potensi gempa besar yang ada di jalur tersebut, tetapi, ”Yang kami tak tahu ialah apakah itu sudah cukup besar untuk membuat zona di Mentawai bergerak. Jangka waktunya kita pun tak tahu. Bisa beberapa bulan atau beberapa tahun. Kami tak bisa memastikan kapan dan berapa besar energi yang terpicu,” katanya.

Yang dapat dilakukan dan harus terus dilakukan, menurut mereka, adalah mempersiapkan masyarakat agar ketika bencana terjadi mereka siap. Masyarakat harus diajari agar mereka tahu ke mana jalur untuk menyelamatkan diri, misalnya terjadi tsunami !

Filed under: Breaking news, Tentang Mu Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: